Bioteknologi sebagai "Jalan Keluar" untuk Perkembangan Teknologi Pertanian Berkelanjutan

WartaIptek.com - Pada tahun 2030, populasi dunia diperkirakan mencapai 8.1 milyar, dengan pertumbuhan sekitar 75 juta kelahiran per tahun. Semakin meningkatnya populasi manusia tersebut, tentunya juga akan diikuti oleh naiknya kebutuhan hidup. Sementara itu, lahan pertanian yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan manusia semakin sedikit. Untuk mengatasi hal tersebut, manusia membutuhkan suatu teknologi yang menggunakan sumber daya yang melimpah dan tidak akan pernah bisa habis, yaitu dengan memanfaatkan bioteknologi.

Bioteknologi adalah ilmu tentang teknologi yang memanfaatkan makhluk hidup untuk peningkatan kualitas pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Pemanfaatan tersebut dapat berasal dari mikroorganisme, sel, maupun komponen tertentu dari makhluk hidup yang akan digunakan. Bioteknologi merupakan perpaduan  antara ilmu biologi, fisika, kimia, dan teknik. Bioteknologi sendiri memiliki cabang ilmu yang cukup banyak. Pertama adalah Red Biotechnology untuk bidang kesehatan, Blue Biotechnology untuk bidang kelautan, Green Biotechnology untuk bidang pertanian, dan sebagainya. Di bidang pertanian, bioteknologi dapat dijumpai dalam contoh seperti jagung dan padi transgenik.


Bioteknologi menggunakan bantuan makhluk hidup seperti mikroorganisme. Dalam penggunaannya, mikroorganisme memiliki beberapa keunggulan, yaitu cepat, terkontrol, dan tidak menyebabkan kerusakan pada lingkungan. Artinya, ketika bioteknologi diterapkan, dia (bioteknologi) tidak akan menghasilkan limbah yang nantinya akan berbahaya untuk kehidupan.

Bioteknologi dalam bidang industri, menggunakan bahan baku dari sumber daya alam, seperti hasil pertanian atau limbah industri dari pertanian, yang mana setelah dilakukan bioprocessing, bioteknologi industri melibatkan kultur sel, enzim, bio katalis, atau bio reaktor untuk menghasilkan berbagai macam produk industri. Produk-produk tersebut awalnya berasal dari sumber daya yang tidak terbarukan, sehingga lama kelamaan akan habis. Berbeda ketika menggunakan bioteknologi, produk tersebut akan terus berkelanjutan.

Terlepas dari keunggulan yang dimiliki oleh bioteknologi, pengembangan bioteknologi di bidang pangan juga mengalami pro dan kontra. Di Indonesia, contohnya, produk bioteknologi dalam bidang pangan, masih sering diragukan keamanannya oleh masyarakat. Padahal, dalam pembuatan produk pangan berbasis bioteknologi, dibutuhkan pengkajian yang membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum beredar di pasaran, dan harus dalam pengawasan lembaga-lembaga yang bertugas untuk mengamati toksisitas produk tersebut dan pengaruh terhadap lingkungan. 

Sebenarnya, perkembangan bioteknologi itu kalau dilihat sangat bagus sekali. Karena pada satu sisi jika bioteknologi tidak dikembangkan, contohnya dalam perkembangbiakan jagung, atau dalam anti hama. Dengan jumlah populasi manusia yang semakin naik, tidak akan bisa diimbangi dengan jumlah makanan sehingga menyebabkan terjadinya bencana kelaparan.

Efek jangka panjang yang akan ditimbulkan oleh teknologi yang nantinya akan diterapkan menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan, karena kedepannya,  umat manusia akan menerapkan sistem Eco Green untuk kehidupan masa depan. Secara khusus, bangsa Indonesia sendiri didukung oleh keberagaman flora dan fauna yang dimilikinya, sehingga memperbesar kemungkinan banyaknya makhluk hidup yang belum dieksplor dibandingkan dengan negara lain. Namun sayangnya, dalam hal bioteknologi, bangsa Indonesia termasuk negara yang tertinggal jauh dari negara-negara lain seperti Malaysia dan Thailand. Penyebab utamanya adalah kurangnya sumber daya manusia Indonesia yang ahli dalam bidang bioteknologi, dan minimnya lembaga pendidikan yang mengajarkan tentang bioteknologi.

Industri berbasis bioteknologi di Indonesia sudah cukup banyak. Sayangnya, sebagian besar dari industri tersebut merupakan milik perusahaan asing. Untuk  mengejar ketertinggalan tersebut, Indonesia harus "berlari cepat", dalam arti Indonesia membutuhkan banyak sumber daya manusia yang ahli dalam bidang bioteknologi. Sehingga sumber daya alam di Indonesia yang melimpah tidak akan dikuasai oleh pihak asing.

Dari berbagai macam hal yang dipaparkan di atas, dapat diketahui bahwa bioteknologi berpeluang besar dalam menggantikan teknologi-teknologi lain sebagai jalan keluar meningkatnya populasi manusia dan semakin sedikitnya lahan pertanian yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Bioteknologi tidak membutuhkan lahan yang cukup banyak, sehingga dapat mengoptimalkan ketersediaan hasil pertanian untuk kebutuhan seluruh umat manusia. Hanya saja, dalam pengembangan bioteknologi untuk masa depan masih menemui beberapa tantangan, khususnya untuk bangsa Indonesia. Tantangan tersebut antara lain  kurangnya sumber daya manusia, dan adanya kemungkinan efek-efek samping yang ditimbulkan bioteknologi yang tidak dapat diketahui dalam jangka waktu pendek, sehingga membutuhkan riset yang cukup lama untuk dapat memastikan bahwa produk bioteknologi aman untuk disebarluaskan ke seluruh masyarakat dunia.

Share this article / Bagikan Artikel Ini! :