Fenomena Hari Tanpa Bayangan Matahari

WartaIPTEK.com - Panas terik saat Matahari tepat di atas kepala dan tanpa ada bayangan mulai menerpa beberapa wilayah Indonesia. 'Hari Tanpa Bayangan Matahari' terjadi karena deklinasi matahari sama dengan lintang tempat tersebut. Peristiwa tersebut merupakan fenomena alam rutin tiap tahun. Di mana saja itu bisa terjadi.

Pada waktu itu, Matahari mengalami gerak semu harian dan tahunan. Pada gerak semu harian, manusia di Bumi akan melihat Matahari seolah-olah terbit dari timur, berada tepat di atas kepala pada tengah hari dan akhirnya tenggelam di barat.


Pada gerak semu tahunan, manusia yang berada di lintang nol akan melihat Matahari bergeser ke utara pada 21 September dan bergeser ke selatan pada 23 September-21 Maret. Tepat pada 21 Maret dan 23 September, Matahari berada di khatulistiwa.

Ada kecenderungan panas sekali. Efeknya memberikan pemanasan secara optimal. Hal itu terjadi karena matahari di atas kepala manusia pada siang hari dan tanpa penghalang awan. Sekitar Maret-April, saat itu matahari pada peralihan musim pancaroba. Namun jika saat fenomena itu terjadi lipatan awan menutupi matahari, yang dirasakan ialah udara sejuk. Efek pemanasan yang optimal itu bisa dikurangi dengan faktor awan.Tergantung ada penghalang atau tidak. Kalau dihalangi awan akan terasa sejuk atau seperti hari hari biasa saja.

Sebenarnya, jika angin bertiup dari daerah yang bermusim dingin saat fenomena itu terjadi, efeknya akan terjadi pendinginan juga. Namun karena saat ini mengalami musim pancaroba, efek yang dihasilkan adalah pemanasan.

Momen 'Hari Tanpa Bayangan Matahari' terjadi di tengah hari. Fenomena ini membuat tongkat yang dipasang di tengah lapangan tidak akan memiliki bayangan.

0 Response to "Fenomena Hari Tanpa Bayangan Matahari"

Post a Comment

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif! Terima kasih.