Mengenal Sejarah Triwindu, Pasar Antik dari Era Sebelum Kemerdekaan

WartaIPTEK.com - Pasar Triwindu adalah salah satu ikon Kota Solo. Banyak orang berburu diskon tiket pesawat ke Solo hanya untuk berbelanja di pasar barang antik ini. Pasar Triwindu sering diulas oleh berbagai situs melancong, dan bahkan terkenal hingga ke berbagai negara. Tetapi, sejarah pasar ini ternyata bisa dilacak hingga era sebelum kemerdekaan.

Source : nationalgeographic

Peringatan Pelantikan Sultan dan Lahirnya Nama “Triwindu”
Pasar Triwindu dibuka pada tahun 1939 untuk memperingati ulang tahun ke-24 pelantikan Sultan Mangkunegara VII. Nama “Triwindu” berasal dari kata tri (tiga) dan windu (periode delapan tahun), menyimbolkan angka 24. Pasar ini dibuka tepat di depan Keraton Surakarta, bersamaan dengan perayaan besar-besaran yang dihadiri ratu Belanda, Wilhelmina.

Pasar ini berjaya hingga krisis moneter tahun 1997 datang. Deflasi serta kehadiran pasar-pasar murah di berbagai penjuru Solo membuat Pasar Triwindu semakin kurang diminati. Jumlah pedagang serta produk yang dijual semakin menurun. Pada tahun 2008, pasar ini dipugar dan dijadikan komplek dua lantai. 

Pada tanggal 25 Oktober 2009, Ir. Joko Widodo yang masih menjabat sebagai wali kota Solo pun meresmikan Pasar Triwindu pasca pemugaran. Acara peresmian tersebut diramaikan dengan festival budaya.

Produk Pasar Triwindu
Dari tahun 1939 hingga 1960-an, Pasar Triwindu menjual produk rumah tangga, alat pertanian, aksesori motor, barang bekas, dan sebagainya. Akan tetapi, pada tahun 1970-an, pedagang-pedagang Triwindu mulai menjual barang-barang antik, yang rata-rata berusia 50 tahun ke atas. Produk yang dijual kebanyakan pernah dimiliki oleh orang-orang Belanda atau Tionghoa era sebelum kemerdekaan, seperti kap lampu antik, sendok berukir, piring keramik, guci, dan sebagainya.

Memasuki era 90-an, banyak pedagang Triwindu yang mulai menjual produk baru berpenampilan antik atau retro. Produsen dari berbagai daerah di Indonesia mengirimkan produk andalan mereka untuk dijual di Triwindu. Contoh yang cukup populer antara lain keramik dari Kalimantan dan Jawa Barat, patung perunggu dari Trowulan dan Mojoagung, kerajinan perak dari Yogya, dan perabot dari Jepara.

Pasar Triwindu Sekarang
Pasar Triwindu yang telah dipugar tidak lagi hanya menjual barang antik, tetapi juga oleh-oleh. Pengunjung yang datang tidak hanya wisatawan lokal dan nasional, tetapi juga internasional seperti dari Meksiko, Amerika Serikat, Belanda, Inggris, Jepang, Malaysia, Timur Tengah, Singapura, dan Afrika Selatan. Teras pasar ini juga kerap difungsikan sebagai lokasi pertunjukan budaya.

Tergantung kapan Anda berkunjung, Anda bisa menyaksikan pertunjukan seperti wayang kulit, konser jazz, atau pertunjukan keroncong di depan Pasar Triwindu. Jika Anda datang pada malam Minggu, Anda bisa melihat pasar malam dadakan yang meliputi area di sekitar Pasar Triwindu serta sepanjang jalan di depan keraton. Pasar dadakan ini dibuka pukul 18:00 WIB, dan jalanan akan ditutup untuk keperluan ini.

Tips Berjalan-jalan ke Pasar Triwindu
Lokasi Pasar Triwindu yang strategis membuatnya mudah dijangkau oleh becak, bus wisata, bus rel, maupun kereta uap. Pasar ini buka setiap hari dari pukul 09:00 hingga 17:00, dan tidak mengenakan biaya masuk. Pastikan Anda datang membawa uang tunai yang cukup untuk menjelajahi lebih dari 200 kios yang ada, karena tidak semua pedagang menerima pembayaran dengan kartu debit atau kredit.
Pasar Triwindu bisa dijadikan lokasi wisata kuliner. Anda bisa menemukan restoran modern serta warung yang menjual makanan khas Solo di sekitar pasar, seperti selat Solo, gudeg Solo, dan soto.
Jangan lewatkan Pasar Triwindu jika Anda berkunjung ke Solo. Segera pesan tiket Anda di Airy, dan lihatlah salah satu ikon kota yang telah ada sejak era sebelum kemerdekaan Indonesia ini.

0 Response to "Mengenal Sejarah Triwindu, Pasar Antik dari Era Sebelum Kemerdekaan"

Post a Comment

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif! Terima kasih.