Elias Howe, Penemu Pertama Mesin Jahit Praktis

Warta IPTEK - Elias Howe dari New Hartford, Connecticut mematenkan pertama kali mesin jahit mekanis di AS pada 10 September 1846. Maka ia kerap disebut-sebut sebagai penemu pertama mesin jahit praktis. Sebenarnya Elias Howe membuat mesin untuk memasang kancing.

Sejarah mesin jahit dimulai dari imigran Jerman, Charles Weisenthal yang tinggal di Inggris mematenkan jarum yang digunakan untuk menjahit pada tahun 1755. Namun justru Isaac Singer yang menuai sukses dengan menggabungkan ide-ide tentang mesin jahit dan strategi pemasaran. Pria yang memiliki lima istri ini sempat digugat Elias Howe karena kesamaan mekanisme menjahit, yaitu penggunaan dua benang dari arah berlawanan untuk menyatukan cita (kain).


Sejarah menjahit dimulai dari jarum di awal peradaban manusia terbuat dari batu, tembaga, tulang atau gading. Jarum yang masih kasar itu digunakan untuk menyatukan kulit hewan menjadi pakaian. Boleh dikata, menjahit manual sudah dimulai sejak 20.000 tahun silam. Jika jarumnya terbuat dari tulang atau tanduk hewan, benang jahit terbuat dari otot hewan. Belakangan, setelah ada temuan jarum logam pada abad ke-14, maka menjahit terus berkembang dan seabad kemudian dibuat jarum dengan lubang.

Pada abad ke-17, seorang imigran Jerman, Charles Weisenthal mematenkan jarum yang dirancang untuk sebuah mesin. Namun patennya tidak merinci mesin yang menggunakan jarum tersebut.

Berikutnya, seorang penemu dan pembuat lemari asal Inggris, Thomas Saint mematenkan mesin jahit di tahun 1790. Tidak diketahui apakah Saint benar-benar membuat prototif mesin yang bisa digunakan saat itu atau sekadar mematenkan agar mendapat royalti kelak jika mesin itu bisa dibuat.

Yang jelas, Thomas Saint merinci dalam patennya sebuah benda tajam yang membuat lubang pada kulit dan memasukkan jarum ke lubang yang ada. Namun reproduksi temuan Saint itu ternyata tidak bisa beroperasi.

Sedangkan warga Jerman, Balthasar Krems menemukan mesin otomatis untuk menjahit topi di tahun 1810. Ia tidak mematenkan temuannya dan tidak pernah berfungsi dengan baik.

Dari Austria, seorang penjahit, Josef Madersperger melakukan sejumlah upaya membuat mesin jahit hingga menerbitkan paten di tahun 1814. Sayangnya tak ada satu upaya yang dilakukannya menunjukkan basil yang gemilang.

Upaya membuat mesin jahit seakan tidak pernah pudar. Sebuah paten di tahun 1804 dikeluarkan di Prancis bagi duet Thomas Stone dan James Henderson yang membuat mesin "peniru jahitan tangan". Paten juga diberikan pada tahun yang sama bagi Scott John Duncan yang membuat mesin bordir berjarum banyak. Kedua temuan itu gagal dan dilupakan publik.

Dari Amerika, John Adams Doge dan John Knowles membuat mesin jahit pada tahun 1818. Mesin itu gagal beroperasi saat digunakan menjahit sejumlah kain.

Mesin jahit yang bisa berfungsi diciptakan penjahit asal Prancis, Barthelemy Thimonnier pada tahun 1830. Mesin ciptaan Thimonnier hanya menggunakan satu benang dan sebuah jarum kait seperti pada jarum bordir/sulam. Sayangnya temuan itu tidak disambut baik. Thimonnier nyaris terbunuh saat sejumlah penjahit di Prancis membakar pabrik garmen miliknya. Mereka merasa khawatir tersaingi dan menjadi pengangguran akibat temuan mesin jahit Thimonnier.

Kembali warga Amerika mencoba membuat mesin jahit dan kali ini sukses diraih Walter Hunt dengan mesin jahitnya pada tahun 1834. Namun ia kehilangan semangat untuk mematenkan temuannya. Hunt merasa temuannya akan menimbulkan pengangguran (atau mungkin takut bernasib mirip Thimonnier?).

Akhirnya paten mesin jahit di AS dilakukan Elias Howe yang membuat mesin jahit memakai dua benang dari arah berlawanan. Mesin ciptaan Howe memiliki jarum dengan lubang untuk benang di bagian ujung. Jarum itu didesak menembus kain dan membuat semacam lengkungan benang di sisi bawah kain. Sebuah benang dari arah lain disisipkan ke dalam lengkungan tadi. Maka kedua benang membuat jalinan yang "mengunci" kain.

Persoalan yang dihadapi Howe adalah mempertahankan paten, sekaligus memasarkan temuannya. Ia berjuang selama sembilan tahun dalam mengenalkan mesin jahitnya, mematenkan dan melindunginya dari para peniru. Namun mekanisme jalinan dua benang yang menjadi dasar mesinnya, belakangan diadopsi pihak lain yang melakukan terobosan sendiri.

Isaac Singer menemukan mekanisme gerakan naik-turun dan Allen Wilson mengembangkan alat kait pemintal berputar. Mesin jahit belum menjadi barang produksi massal hingga tahun 1850-an. Setelah Isaac Singer berhasil membuat mesin jahit dengan jarum jahit yang bisa bergerak naik-turun dan digerakkan kayuhan pedal kaki, maka kesuksesan penjualan mesin jahit secara komersial terbuka. Sebelumnya, mesin jahit terdahulu menggerakkan jarumnya dari pinggir dan digerakkan tangan.

Bagaimanapun, mesin Isaac Singer menerapkan mekanisme jalinan dua benang yang telah dipatenkan Howe. Maka, Elias Howe menuntut Isaac Singer atas paten yang serupa dan berhasil memenangkan perkaranya di tahun 1854. Sebenarnya Walter Hunt menerapkan jalinan benang dari dua sumber benang dan jarum berlubang. Namun pengadilan memutuskan paten jatuh ke tangan Howe setelah Hunt membatalkan patennya.

Jika Hunt tetap mematenkan temuannya, Elias Howe dapat dikalahkan dalam perkaranya dengan Isaac Singer. Maka atas kekalahan itu, Isaac Singer harus membayar royalti paten Elias Howe. Jika saja paten yang dimiliki warga Inggris John Fisher di tahun 1844 tidak hilang, maka Fisher akan terlibat dalam perang paten mesin jahit. Pasalnya mesin renda ciptaannya menerapkan mekanisme yang serupa dengan mesin Howe ataupun Singer.

Keberhasilan mempertahankan hak atas patennya membuat keuntungan Elias Howe melonjak tajam. Pendapatan tahunannya yang semula 300 dolar AS menjadi lebih dari 200.000 dolar AS/tahun. Dalam kurun waktu 14 tahun (1854 -1867), Howe mengumpulkan dana hingga 2 juta dolar AS atas temuannya. Ia lantas menyisihkan sebagian kekayaannya selama perang saudara bagi pasukan infanteri dan sebagian lagi sumbangan atas nama pribadi.

Temuan Elias Howe membukakan jalan bagi sejumlah temuan lain di dunia busana. James Gibbs mematenkan mesin jahit benang tunggal pada 2 Juni 1857. Lantas Helen Augusta Blanchard dari Portland, Maine (1840-1922) mematenkan mesin jahit zigzag pada tahun 1873. Helen Blanchard juga mematenkan 28 temuan lain, termasuk mesin jahit topi, jarum medis dan serangkaian perbaikan di dunia jahit-menjahit. Temuan generator listrik membuat penggunaan mesin jahit bertenaga listrik mulai marak di tahun 1905.

Elias Howe kelahiran Spencer, Massachusetts pada tanggal 9 Juli, 1819. Pascakehilangan pekerjaan dari sebuah pabrik di tahun 1837, Howe pindah ke Kota Boston. Ia bekerja di perusahaan mesin, dan kelak menjadi awal ia menemukan mesin jahit mekanis.

Benar saja, delapan tahun kemudian Elias Howe memperagakan mesin perdananya kepada masyarakat. Mesinnya mampu menjahit dengan kecepatan 250 lubang setiap menit dan dilombakan dengan lima penjahit tangan yang terkenal mampu menjahit dengan cepat.

Setelah istri Howe meninggal dunia, paten temuan mesin jahit jadi miliknya sendiri. Elias Howe meninggal di usia 48 tahun sebagai pria kaya atas paten yang dimilikinya. Temuannya pula yang membuat marak dunia garmen di tanah air.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Elias Howe, Penemu Pertama Mesin Jahit Praktis"

Post a Comment

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif! Terima kasih.