Edmund Halley, Sang Penemu Komet Halley

WartaIPTEK.com - Komet Halley. Nama tersebut pastilah tidak asing di telinga kita, sebab beberapa tahun lalu, Halley menjadi "ikon" paling populer dalam wacana astronomi, ketika kemunculannya di sebagian permukaan bumi menarik perhatian banyak kalangan.

Pada 1986, pesawat antariksa gabungan milik Soviet (sekarang sudah terpecah menjadi beberapa negara merdeka), Eropa, dan Jepang mampu mengabadikan foto-foto komet Halley. Pada saat itu, diketahui kalau komet Halley memiliki kandungan berbagai molekul organik yang merupakan beberapa bahan utama untuk membentuk kehidupan.


Komet Halley pernah pula terlihat dan dicatat oleh orang-orang Cina pada 240 SM, dan sebuah lukisan kuno dari tahun 1.066 menunjukkan gambar komet Halley ketika bangsa Normandia menaklukkan Inggris. Hingga tahun 1995, kaum sarjana menemui 870 lebih komet di ruang angkasa dan mencatat garis edar mereka masing-masing.

Dari jumlah itu, 184 buah dikena memiliki garis edar (orbit) yang dapat dilihat dari bumi setiap kira-kira 200 tahun sekali. Hingga kini, para sarjana masih belum sukses meneliti debu komet dengan cara langsung di dalam laboratorium. Oleh karena itulah mereka berharap sekali dapat melakukannya dalam tahun 2006 lalu.

Penamaan Halley pada salah satu bintang berekor (komet) yang memiliki siklus tertentu ketika melewati bumi, karena memang penemu komet tersebut adalah Edmund Halley, seorang pakar matematika dan astoronom terkenal di Britania Raya.

Edmund Halley lahir di tahun 1656 di London Inggris. Sejak kecil, hasratnya terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu matematika dan astronomi, telah nampak. Atas alasan kegemarannya melakukan penelitian yang berhubungan dengan bidang ilmu tadi, Halley memutuskan melanjutkan pendidikannya di Queen's Collage, Oxford.

Dalam kesehariannya Halley berteman baik dengan seorang ilmuwan jenius kala itu, yaitu Newton. Dengan penemu teori gravitasi itulah, Halley kerap terlibat diskusi mendalam soal penciptaan alam dan astronomi secara umum. Halley kemudian mempublikasikan sebuah teori, yang ia beri tajuk Philosophiae Naturalis Principia Mathematica.

Pada pengantarnya Halley memberikan kata pujian yang ditujukan buat Newton. Sebuah bukti, intensitas diskusi dengan Newton turut membawa pencerahan dalam pemikiran dan kontemplasi Halley soal alam semesta.

Selain jenius di bidang matematika, rasa ingin tahunya yang besar akan benda-benda yang bertaburan di langit, akhirnya membawa Halley ke sebuah observatorium yang terletak di belahan bumi selatan Pulau St. Helena. Setelah mempelajari seluk beluk yang berhubungan dengan komet, Halley mengumumkan hasil observasinya yang mengejutkan semua pihak bahwa pada tahun 1456, 1531, dan 1607 komet berada pada garis edar yang sama dan termasuk dalam sistem tata surya.

Dari hasil pengamatannya dia memprediksi bahwa keadaan seperti itu akan terjadi lagi sekitar tahun 1758. Tapi, sebelum prediksinya benar-benar terjadi Halley meninggal dunia pada tahun 1742 di Greenwich. Ternyata, apa yang diramalkan Halley sungguh terjadi dan komet tersebut datang lagi, sejak saat itu benda langit tersebut diberi nama Komet Halley. Sejatinya, bukan cuma soal bintang berekor itu yang menjadi objek penelitian Halley.

Pada 1683, ia meluncurkan teori tentang variasi gaya magnetis. Pada 1684, Halley yang merujuk teori Newton meneliti apakah gaya sentripetal pada sistem peredaran matahari membawa dampak pada jarak edar. Dan pada 1686, ia menulis tentang pergerakan angin dan monsoon.

Pada periode 1698-1701, Halley terus menyempurnakan teori variasi magnetisnya, setelah ia menjabat guru besar geometri di Oxford. Ia meninggal dalam sosok orang yang sangat dihormati dan dimakamkan di Greenwich, Inggris.

0 Response to "Edmund Halley, Sang Penemu Komet Halley"

Post a Comment

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif! Terima kasih.