Info Baru
Loading...

J. Robert Oppenheimer, Perancang Bom Nuklir dan Simbol Moralitas Ilmuwan

WartaIPTEK.com - Keberhasilan Amerika Serikat membom atom dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945, tidak terlepas dari peran J. Robert Oppenheimer. Oppenheimer adalah ahli fisika yang turut merancang dan menguji coba bom nuklir yang akan digunakan untuk menyerang dua kota di Jepang itu.

Ledakan dahsyat bom nuklir yang menghancurkan kedua kota itu memang meninggalkan luka 'kemanusiaan' yang teramat dalam. Daya rusak dan efek yang ditimbulkan bom nuklir dalam jangka panjang memang amat mengerikan.

Sebagai ilmuwan, Oppenheimer tahu pasti daya rusak bom nuklir yang menyebabkan Jepang menyerah dalam Perang Dunia II tahun 1945 tersebut. Itu sebabnya, ia terang-terangan menentang rencana pemerintah Amerika Serikat yang kala itu akan mengembangkan bom atom yang lebih kuat. Namun akibat penentangannya, Oppenheimer dimusuhi para politisi dan jaminan keamanan serta jabatannya di badan atom AS, Atomic Energi Commision dibatalkan. Meski demikian dimata komunitas ilmuwan, Oppenheimer adalah simbol moralitas dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Keahlian Oppenheimer dibidang fisika dan kimia didukung oleh kehidupan keluarganya yang tergolong sukses. Terlahir di New York City pada 22 April 1904 dari ayah seorang imigran Jerman yang mencoba keberhasilan menjadi importir tekstil dan ibu seorang pelukis wanita Amerika yang belajar di Paris.

Robert dan saudaranya Frank dibesarkan dengan kehidupan yang menyenangkan pada masyarakat kelas menengah. ia mengikuti sekolah budaya dan etika dari mulai tingkat dasar hingga menengah. Di bangku sekolah bukan hanya matematika dan ilmu pengetahuan alam yang dipelajarinya, tetapi juga bahasa Yunani, Latin, Prancis dan Jerman.

Setelah menamatkan pendidikan dasar menengahnya tahun 1921, Oppenheimer muda diterima di Harvard University. Di perguruan tinggi bergengsi ini, Oppenheimer tak hanya menguasai fisika dan kimia dengan amat baik tetapi juga mempelajari bahasa, menerbitkan puisi dan mengembangkan ketertarikannya pada ilmu filosofi timur.

Setelah lulus dari Harvard tahun 1925 ia berlayar menuju Inggris untuk belajar kuantum mekanik di University of Cambridge. Disana ia bekerja dengan ilmuwan sohor penemu teori atom, Ernest Rutherford. Oppenheimer pun melanjutkan kuliahnya di Gottingen University dan berhasil meraih gelar doktor tahun 1927.

Setelah menyelesaikan doktornya, Oppenheimer muda kembali ke negaranya Amerika Serikat dan mengajar fisika di University of Berkeley dan California Institute of Technology. Pada tahun 1930, Oppenheimer mengumpulkan orang-orang muda berbakat di bidang fisika dan melakukan riset awal tentang subatomic partikel, termasuk mengenai elektron, positron dan sinar kosmik.

Keterlibatannya dalam pembuatan bom nuklir terjadi pada saat meletusnya Perang Dunia II di Eropa tahun 1939. Kala itu, meletusnya PD II dipicu oleh kekhawatiran bahwa ilmuwan Jerman telah berhasil memisahkan atom dan mulai mengembangkan bom nuklir.

Amerika Serikat tak mau ketinggalan dalam soal ini. Presiden Roosevelt kemudian memutuskan untuk membiayai sebuah projek prestisius yang disebut Manhattan Project. Projek ini bertujuan agar Amerika Serikat bisa menjadi pelopor dalam menciptakan bom nuklir.
Presiden Roosevelt pun melirik kepiawanan Oppenheimer di bidang fisika. Bahkan Robert Oppenheimer ditunjuk sebagai direktur Manhattan Project pada tahun 1942.

Mendapat tugas yang berat ini, Oppenheimer kemudian mengumpulkan peneliti dari berbagai tempat di Amerika dan menempatkannya di suatu laboratorium di dataran Los Alamos, New Mexico. Tugas mereka adalah melakukan penelitian di bidang bom atom.

Manhattan Project bisa dikatakan sukses ketika para peneliti di projek itu berhasil melakukan percobaan peledakan pertama bom nuklir di gurun New Mexico, pada 16 Juli 1945, sesaat setelah Jerman menyerah. Ledakan yang tercipta dari ledakan bom atom kala itu sebanding dengan 20.000 ton dinamit.

"Kami tahu, dunia kini tidak akan sama lagi seperti dulu," ujar Oppenheimer, menyaksikan dahsyatnya ledakan bom atom itu. Apa yang dikemukakan Oppenheimer memang benar, sejak saat itu peperangan bukan lagi sekedar pertempuran antar prajurit atau ajang pamer pesawat militer. Namun lebih jauh lagi, peperangan bisa dimenangkan dengan satu kali ledakan bom nuklir dengan efek yang amat luar biasa.

Hal itu dibuktikan dengan dijatuhkannya bom atom di dua kota di Jepang yaitu Hiroshima dan Nagasaki, pada bulan yang sama setelah percobaan peledakan bom atom dilakukan. Akibat ledakan bom atom tersebut, Jepang pun menyerah tanpa syarat pada 10 Agustus 1945 dan usailah Perang Dunia II dengan korban kemanusiaan di Jepang yang tidak akan terlupakan sepanjang zaman. Korban-korban keganasan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki akan terus dikenang sebagai mimpi buruk bom nuklir dalam sejarah kehidupan manusia.

Atas keberhasilannya mengumpulkan lebih dari 3.000 ahli di Los Alamos dan keberhasilannya meledakan bom atom, Oppenheimer dianugrahi bintang jasa utama dari Presiden AS pada 1946. Setahun kemudian, ia diangkat sebagai direktur Institute for Advanced Study di Princenton University, karirnya terus menanjak, ketika pada tahun yang sama diangkat sebagai ketua komite penasehat utama di Atomic Energy Commissions (AEC) hingga 1952.

Sebagai seorang ilmuwan, Oppenheimer tahu dengan pasti seberapa besar dampak kerusakan yang ditimbulkan sebuah ledakan bom nuklir. Itu sebabnya, ia menentang habis-habisan keinginan pemerintah AS yang berencana mengembangkan bom yang lebih kuat. Namun semua usaha penentangannya sia-sia karena Presiden Truman toh tetap jalan terus bahkan menyetujui pembuatan bom hidrogen.

Seiring dengan pengumuman Presiden Truman itu, Oppenheimer menyadari bahwa para politisi mulai memusuhinya. Tahun 1953 ijin keamanannya (security clearence) dicabut dan kontraknya di ABC dibatalkan.

Untunglah, komunitas ilmuwan mendukungnya. Bahkan ia dijadikan simbol penentangan moral yang muncul akibat temuan ilmiah. Oppenheimer pun kemudian aktif mensosialisasikan hubungan ilmu pengetahuan dan sosial. Ia berupaya menjelaskan bahwa temuan ilmu pengetahuan, seperti halnya penemuan bom atom, haruslah mempertimbangkan masalah-masalah sosial.

Atas semua usahanya itu, Presiden Lyndon Johnson memberinya penghargaan. Lyndon Johnson kemudian mengembalikan security clearencenya pada 1963 dan menganugerahi Enrico Ferme Award dari AEC.

Tak lama setelah ia memperoleh kembali hak-haknya, pada tahun 1966, Oppenheimer pensiun dari Princenton dan setahun kemudian wafat akibat kanker tenggorokan pada 18 Februari 1967.

0 Response to "J. Robert Oppenheimer, Perancang Bom Nuklir dan Simbol Moralitas Ilmuwan"

Post a Comment

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif! Terima kasih.