iklan space 728x90px

Eceng Gondok, Gulma Penjernih Air Limbah


WartaIPTEK.com - Seiring dengan dinamika kehidupan manusia yang demikian kompleks, apalagi aktivitas kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan dari lingkungan tempat dia berinteraksi menuntut perhatian kita untuk peduli terhadap lingkungan sekitar. Sudah menjadi konsekuensi umum bila aktivitas, baik produksti, distribusi, dan aktivitas hajat hidup manusia yang dilakukan tersebut akan membawa dampak baik positif maupun negatif.

Di era globalisasi dan industrialisasi seperti sekarang ini banyak dikembangkan teknologi yang sudah tidak menghiraukan lagi keberadaan dan kepedulian terhadap lingkungan, yang difokuskan hanya kuantitas produksi tanpa menghiraukan kualitas produksi dan kualitas lingkungan hidup.

Dalam proses suatu produksi diperlukan bahan baku dan bahan penunjang lainnya, yang setelah melalui suatu sistem produksi, maka dihasilkan bahan jadi berupa produk. Di samping itu sebagai hasil sampingnya, maka akan diproduksi juga berupa limbah yang merupakan sisa produksi yang tidak terpakai. Limbah yang dihasilkan dari proses ini jika tidak ditangani secara terpadu (berupa treatment) untuk mengolahnya jika dibuang ke tempat pembuangan akan mengganggu lingkungan hidup sekitar.

Dari berbagai air limbah yang ada di sekitar kita, ambil contoh air limbah dari peternakan yaitu air limbah sisa pemotongan hewan temak. Air limbah yang banyak dihasilkan dari buangan industri, di antaranya adalah dari rumah potong hewan (RPH). Karakteristik air limbah ini mengundang zat organik, unsur hara dan mineral yang tinggi. Air limbah yang dihasilkan dari 1 ton limbah rumah potong hewan berjumlah 5.331. Jumlah ini adalah volume limbah yang sebagian besar terdiri dari cairan tubuh hewan dan tanpa peacucian. Bila air limbah tersebut dibuang ke perairan umum, itu akan menimbulkan dampak negatif yang besar terhadap penurunan kualitas perairan.

Pengolahan limbah cair organik telah banyak dilakukan, misalnya secara "Activated Sludge" atau "Trickling Filter". Meskipun memerlukan biaya yang tinggi dan mahal, teknik perawatan dan pengerjaannya relatif rendah dan sederhana. Alternatif lain dalam pengolahan air limbah yang memenuhi kriteria di atas adalah dengan menggunakan tumbuhan air, yaitu eceng gondok.

Manfaat Gulma
Eceng gondok adalah salah satu jenis tumbuhan air yang pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuwan bernama Karl Von Mortius pada tahun 1824 ketika sedang melakukan ekspedisi di Sungai Amazon Brazilia. Karena kerapatan pertumbuhan eceng gondok yang tinggi, tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.

Pertumbuhan massal eceng gondok akan terjadi bila perairan mengalami penyuburan oleh pencemaran. Keadaan ini akan terjadi bila kemampuan asimilasi zat yang masuk ke perairan mengalami penurunan.

Kondisi merugikan yang timbul sebagai dampak pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali di antaranya adalah:
  • Meningkatnya evapontranspirasi.
  • Menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved Oxygens).
  • Mengganggu lalu lintas (transportasi) air, khususnya bagi masyarakat yang kehidupannya masih tergantung dari sungai seperti di pedalaman Kalimantan dan beberapa daerah lainnya.
  • Meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia.
  • Menurunkan nilai estetika lingkungan perairan.
Dampak negatif tersebut perlu diimbangi dengan usaha penanggulangannya. Salah satu upaya untuk penanggulangan yang umum dilakukan oleh masyarakat di antaranya:
  • Menggunakan herbisida.
  • Mengangkat eceng gondok tersebut dari lingkungan perairan.
  • Menggunakan predator (hewan sebagai pemakan eceng gondok).
  • Memanfaatkan eceng gondok tersebut, misalnya sebagai bahan pembuatan kertas, kompos, biogas, kerajinan tangan, sebagai media pertumbuhan bagi jamur merang, dsb.
  • Secara terpadu dengan mengombinasikan cara-cara yang telah disebutkan di atas.
Pemanfaatan eceng gondok untuk produk tertentu merupakan cara yang lebih bijak jika dibandingkan dengan cara-cara lain sebab risiko yang ditimbulkan lebih kecil.

Pemanfaatan eceng gondok untuk memperbaiki kualitas air yang tercemar telah biasa dilakukan, khususnya terhadap limbah domestik dan industri sebab eceng gondok memiliki kemampuan menyerap zat pencemar yang tinggi daripada jenis tumbuhan lainnya.

Menyerap Bahan Organik
Kecepatan penyerapan zat pencemar dari dalam air limbah oleh eceng gondok dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya komposisi dan kadar zat yang terkandung dalam air limbah, kerapatan eceng gondok, dan waktu tinggal eceng gondok dalam air limbah.

Dari hasil percobaan laboratorium diperoleh simpulan, kecepatan penyerapan Nitrogen (N2) yang maksimal dipengaruhi oleh kerapatan tanaman, sedangkan kecepatan penyerapan Phosphat (P) tidak saja dipengaruhi oleh kandungan Phosphat di dalam air dan kerapatan eceng gondok, tetapi dipengaruhi pula oleh kadar Posphat dalam jaringan. Faktor penunjuk lainnya yang memengaruhi penyerapan senyawa Nitrogen dan Phosphat adalah waktu detensi zat tersebut di dalam limbah yang di-tumbuhi oleh eceng gondok.

Percobaan lain tentang kemampuan eceng condok menyerap unsur hara Nitrogen (N) dan Phosphat dilakukan dengan menggunakan bejana yang berisi 6 liter air yang mengandung senyawa Nitrogen dan Phosphat masing-masing 50 mg/I, 100 mg/I, dan 250 mg/I. Hasil percobaan menunjukkan senyawa Ammonium yang kadamya 50 mg/I, dan 100 mg/I, diserap seluruhnya dari dalam air setelah 15 hari dan 21 hari, sedangkan senyawa Nitrat yang kadarnya 50 mg/I, diserap seluruhnya setelah 23 hari.

Ada pun penurunan terbesar kadar Ammonium (NH4+) dan Nitrat (N03) pada percobaan dengan kadar tertinggi diperoleh setelah 35 hari. Penyerapan kadar Phosphat dalam bentuk OrthoFosfat (P043-) adalah sekira 80,150, dan 250 mg dari masing-masing perlakuan yang mengandung 50 mg/I, 100 mg/I, dan 250 mg/I.

Interaksi antara kandungan zat di dalam air dan kemampuan menyerap zat tersebut dari dalam air oleh eceng gondok dapat dilihat dari hasil percobaan dengan mengunakan kultur larutan Hoagland. Pada percobaan lain diperoleh bahwa bila kadar Phosfor dalam medium tinggi, penyerapan zat tersebut meningkat, khususnya jika di dalam media tersebut terdapat kadar Nitrogen yang tinggi.

Besarnya kandungan suatu zat di dalam air limbah akan memengaruhi peningkatan Biomassa tanaman. Beberapa penelitian menyatakan bahwa kandungan unsur hara yang berlebihan di dalam air limbah dapat menimbulkan keracunan organ eceng gondok. Hasil percobaan menyatakan eceng gondok menunjukkan gejalal keracunan bila kadar Nitrogen di dalam media mencapai 6,525 mg/I.

Dari hasil percobaan lainnya diperoleh bahwa akibat defisiensi Nitrogen pada suatu jenis air limbah yang ditanami eceng gondok menunjukkan adanya pengaruh yang besar terhadap penyerapan Phosfor dari dalam limbah. Oleh karena itu, waktu detensi dan kerapian eceng gondok akan menimbulkan pengaruh yang lebih besar terhadap tingkat penyerapan Phosfor, sehingga besarnya Biomassa eceng gondok juga akan dipengaruhi.
Follow Warta Iptek di Google News

0 Response to "Eceng Gondok, Gulma Penjernih Air Limbah"

Posting Komentar

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif! Terima kasih.