Penanggalan Pranata Mangsa Dan Pengaruhnya Terhadap Petani Jawa

WartaIPTEK.com - Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna dibandingkan makhluk hidup lainnya ciptaan Tuhan, karena mempunyai akal pikiran yang tidak dipunyai makhluk hidup lainnya. Penggunaan akal pikiran manusia tersebut mengalami perkembangan sesuai zamannya.

Pada awal perkembangan budayanya, manusia hanya memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Kekuatan fisik manusia sangat besar pengaruhnya terhadap kelangsungan hidup. Kebutuhan makan diperoleh dengan cara memetik hasil di hutan dan berburu.

source : notanjung.blogspot.com


Pada perkembangan selanjutnya, lingkungan akan mulai diolah dengan kemampuan yang ada, sehingga muncullah kegiatan pertanian. Hujan, angin, perubahan suhu dan gejala-gejala meteorologis lainnya, sangat mempengaruhi pola kehidupan sehari-hari. Pengelolaan pertanian masih sangat tergantung pada alam. Manusia sebatas mengamati dan memahami keteraturan yang muncul di sekitarnya serta mencoba mencari kaitan yang ada antar gejala yang timbul.

Pada masyarakat pertanian di Jawa terdapat suatu pengetahuan praktis mengenai peredaran matahari dan bintang di sepanjang tahun yang disebut Pranata Mangsa. Pranata mangsa merupakan penanggalan pertanian tradisional hasil karya gemilang Susuhunan Pakubuwana VII, penguasa kerajaan Surakarta Hadiningrat.

Terciptanya kalender pranata mangsa didasarkan atas peredaran matahari, tanpa didukung oleh teori-teori pertanian modern atau alat-alat produk teknologi modern, tetapi hanya didasarkan atas pengamatan yang teliti terhadap gejala perubahan yang terjadi pada lingkungan hidupnya.

Masyarakat petani Jawa mempunyai persepsi bahwa kalender mangsa merupakan tuntunan yang harus dipatuhi,
sehingga pelanggaran terhadap pranata mangsa dianggap mendatangkan dosa dan sengsara, apalagi perhitungan ini merupakan hasil karya sesembahan mereka. Dengan demikian sistem penanggalan pranata mangsa merupakan suatu pedoman dalam pengelolaan tanah pertanian.

Sistem penanggalan pranata membagi tahun rnenjadi empat musim yang mempunyai karakteristik tersendiri, yaitu:
a. Mangsa Ketiga (kemarau)
Berlangsung selama 88 hari, antara tanggal 28 Juni sampai dengan 18 September. Dalam musim kemarau ini terdapat mangsa ksa (ke-1), karo (ke-2), dan katelu (ke-3).

b. Mangsa Labuh
Berlangsung selama 95 hari, antara tanggal 18 September sampai dengan 22 Desember. Merupakan himpunan mangsa kapat (ke-4), kalima • (ke-5), dan kanem (ke-6).

c. Mangsa Rendheng (penghujan)
Berlangsung selama 94 hari antara tanggal 23 Desember sampai dengan 26 Maret. Terdiri dari mangsa kapitu (ke-7), kawolu (ke-8), dan kasanga (ke-9).

d. Mangsa Mareng (pancaroba)
Berlangsung selama 88 hari, antara tanggal 27 Maret sampai dengan 21 Juni. Merupakan himpunan mangsa kasapuluh (ke-10), dhesta (ke-11), dan sada (ke-12).

Para petani mulai menanami lahan pertaniannya pada saat mangsa rendheng, tetapi pengolahan tanah pertanian telah
dipersiapkan saat mangsa labuh. Setelah musim penghujan datang selama 94 hari, datanglah musim pancaroba selama 88
hari. Setelah pancaroba, akan datang musim kemarau selama 88 hari yang diikuti datangnya musim labuh. Begitu seterusnya membentuk siklus yang tidak akan pernah berhenti.

Keteraturan alam yang konstan menyebabkan para petani tidak lagi kaget menghadapi masa-masa sulit musim kemarau, karena petani sadar bahwa keadaan tersebut merupakan bagian musim yang harus di hadapi. Mereka optimis dan punya harapan, karena setelah musim kemarau pergi akan diikuti datangnya musim labuh dan musim penghujan, pancaroba dan kembali labuh.

Artinya, setelah terjadi paceklik pada musim kemarau, tentu akan datang musim tanam, musim panen, dan kembali paceklik.

Secara berangsur, berkat akal pikirannya, ilmu pengetahuan dan teknologi manusia semakin maju. Manusia mulai mampu memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan timbul dalam pengamatan gejala-gejala cuaca. Dengan memanfaatkan informasi yang disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, maka para petani melalui para penyuluh pertanian lapangan (PPL), mampu memperkirakan kapan saat turunnya hujan, kemungkinan arah dan kecepatan angin bertiup, dan perkiraan temperatur udara, yang kesemuanya sangat berguna bagi upaya pengelolaan tanah pertaniannya. Oleh karena itu para petani tidak lagi menggunakan pranata mangsa secara membabi buta. Pranata yang dirasakan tidak lagi sesuai dengan zaman, misalnya karena perubahan musim, berangsur-angsur ditinggalkan.

Berdasarkan hasil pengamatan di Kecamatan Patuk (Gunung Kidul, DIY) pada awal tahun 1990 memberikan gambaran, bahwa terjadi pergeseran penggunaan pranata mangsa. Dari 100 responden petani, 42% tidak lagi memperhitungkan pranata mangsa dalam pengelolaan tanah pertaniannya. Apabila dilihat lebih dalam lagi, ternyata petani tidak lagi menggunakan perhitungan pranata mangsa bukan hanya petani usia muda saja, tetapi juga para petani dengan usia relatif tua.

Dari 58 petani yang menyatakan mempergunakan pranata mangsa dalam pengelolaan lahan pertaniannya, 12 orang diantaranya mengemukakan alasan ingin memelihara warisan lelulur, 12 petani menyatakan bahwa pranata mangsa memang tepat perhitungannya sehingga cocok diterapkan, sehingga 28 petani lainnya mengemukakan alasan bahwa tanpa mempergunakan pranata mangsa niscaya akan mengalami kegagalan panen.

Alasan yang dikemukakan oleh 42 petani yang tidak lagi menggunakan pranata mangsa terbagi menjadi tiga. Sembilan petani menyatakan alasan tidak mengerti pembagian mangsa dalam sistem pranata mangsa, 10 petani mengemukakan alasan pranata mangsa kadang-kadang meleset, dan 23 petani tidak menghiraukan lagi pranata mangsa, karena mereka akan segera menanam begitu hujan pertama datang.

Dari data tersebut diketahui bahwa pengaruh sistem penanggalan pranata terhadap petani Jawa dalam pengelolaan tanah pertaniannya mulai bergeser dan ditinggalkan. Para petani mulai banyak memanfaatkan jasa informasi perubahan lingkungan yang diterima dari Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ataupun lembaga-lembaga yang terkait lainnya.

Oleh karena itu, diperlukan kecepatan dan keakuratan data sehingga prediksi yang disampaikan tepat atau minimal mendekati kenyataan, karena sangat berpengaruh pada kehidupan petani. Apalagi hal itu juga berhubungan dengan kredibilitas para penyuluh pertanian (PPL) sebagai pembawa informasi. Sekali para PPL berbuat kesalahan, maka runtuhlah kredibilitasnya sebagai agen perubahan dalam bidang pertanian. Semoga hal ini tidak akan terjadi. [Source Image : notanjung.blogspot.com; Source Article : Amerta]

0 Response to "Penanggalan Pranata Mangsa Dan Pengaruhnya Terhadap Petani Jawa"

Post a Comment

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif! Terima kasih.