Home » » Bilih, Ikan Primadona Danau Singkarak Mulai Langka

Bilih, Ikan Primadona Danau Singkarak Mulai Langka

Dipublikasikan oleh Maman Soleman

Warta IPTEK - Bilih, nama ikan khas di Danau Singkarak. Popularitasnya hampir menyamai danau itu sendiri. Bila orang menyebut danau Singkarak, tentu akan ingat dengan ikan Bilih ini. Dan akhir-akhir ini populasinya semakin menurun. Benarkah ikan ini sudah berkurang?
.
Sama dengan jenis ikan-ikan lainnya, ikan ini punya musim-musim juga. Biasanya ikan Bilih mulai banyak pada bulan Desember sampai Januari. Kalau melihat dari musim ikan di danau ikan-ikan itu melakukan pemijahan pada musim penghujan.

Ikan Bilih yang nama Latinnya Mystacofecus padangensis, memang sedikit unik. Bentuknya yang kecil, paling besar sebesar jari kelingking, hidup bergerombol di muara-muara sungai yang ada di sekeliling danau Singkarak. Setiap malam ikan ini selalu naik ke anak sungai menantang arus.

Menurut cerita nelayan di desa Muara Paninggahan, ikan tersebut naik ke anak sungai dengan tujuan ke Pincuran Batu. Nama sebuah mata air di hulu sungai Muara Paninggahan. Dulunya, ikan ini pemah bersumpah untuk menuju Pincuran Batu sebelum matahari terbit. Karena letaknya yang jauh, dan arus yang deras ikan-ikan ini tidak pemah sampai di sana sampai saat sekarang.

Namun itu hanya cerita orang saisuak (nenek moyang). Ikan Bilih naik ke anak sungai, untuk melakukan pemijahan. Pemijahan dilakukan di pematang-pematang sawah yang ada di pinggiran anak-anak sungai yang banyaknya sekitar 18 anak sungai di sekeliling danau. Sifat ini disebut juga fish behavior, instink yang dibawa sejak lahir.

Belum adanya peraturan penangkapan ikan di danau, membuat nelayan di sana melakukan penangkapan saat ikan bilih melakukan pemijahan di anak sungai. Ikan bilih saat kembali ke danau, biasanya meluncur dengan ekor duluan mengikuti arus. Di muara-muara sungai, orang-orang sudah menunggu dengan berbagai alat tangkapnya.


Di Muara Paninggahan, Kec. X Koto, Kab. Solok dan Muara Sumpur, Kec. Batipuh, Kab. Tanah Datar, orang-orang membuat perangkap di muara sungainya. Perangkap yang disebut alahan berupa anak sungai yang dipecah menjadi 10 alur. Pada masing-masing alur di pasang perangkap yang terbuat dari ijuk dan enau, 4 lapis masing-masing alur. Dari yang jarang, gunanya menyaring sampah, sampai yang paling rapat. Pada malam hari ikan ini dibiarkan naik ke hulu sungai untuk bertelur. Menjelang matahari terbit, perangkap di pasang. Alur sungai ditutup dan dipindahkan ke saluran lain untuk mengambil ikan yang ada dalam perangkap.

Bila di dua desa itu anak sungainya dangkal. Maka pada desa-desa lain dimana sungainya dalam dan lebar, orang-orang mengambil ikannya setelah ikan itu di racuni. Racun yang dipakai biasanya tubo langkisau - terbuat dari kulit kayu langkisau - dan putas. Ada juga yang memasang langli jaring ikan bilih - di muara-muara sungai.

Dari cara yang dilakukan nelayan disana dengan jalur pintas, hasilnya memang selalu ada. Tapi cara itu sendiri, tanpa disengaja telah mengurangi populasi ikan bilih. Tidak saja ikannya mati atau tertangkap oleh cara di atas, tapi telurnya juga ikut hancur. Telur yang disimpan di sela-sela rumput atau batu di pinggiran alahan, hanyut saat dilakukan pembersihan alahan atau muara-muara. Di muara sungai, telur ini jadi santapan ikan predator, seperti ikan Sasau, Assang, Garing - ikan asli danau - atau ikan Nila dan Tawas - ikan budidaya dari Dinas Perikanan Singkarak.

Pada beberapa tempat, seperti desa Padang Lawas, Batu Tebal, telur-telur ikan dari yang tertangkap malah bisa dijual dalam bentuk siap dimakan jadi lauk. Telur ini dimasak dengan santan kelapa. Menangkapnya yang tidak begitu susah, membuat nelayan lebih senang menangkap ikan bilih. Dari 13 desa di pinggiran danau Singkarak, 420 orang nelayan yang ada, umumnya lebih sering menangkap ikan bilih. Alasannya, ikan yang besar susah di dapat. Lagi pula ikan-ikan ini seperti tidak punya musim.

Ikan bilih yang tergolong ikan seribu ini memang cepat sekali berkembangnya. Satu ikan bisa menghasilkan ribuan anak ikan. Anak ikan ini terbungkus di dalam busa, yang ditebar dekat air yang keruh, disembunyikan dari santapan ikan yang lain. Dari sekian banyak telur dan anak ikan yang jadi santapan ikan besar, tentu ada yang lolos dan berkembang biak.

Namun sampai seberapa lama ikan ini sanggup bertahan, dari proses itu? Lambat laun ikan ini akan punah, kalau penangkapannya masih tetap dilakukan saat ikan tersebut mau bertelur. Siapa yang peduli dengan keberadaannya, bila si nelayan punya pikiran ikan bilih banyak di muara-muara sungai di Singkarak. Dan konsumen hanya mengetahui untuk mencari ikan bilih yang kering, tinggal datangi pasar ikan di Solok, Bukittinggi, Padang atau desa-desa di pinggiran danau Singkarak, seperti Ombilin. Masihkah ikan bilih primadona ikan danau Singkarak.untuk masa datang?


0 komentar:

Post a Comment

Berilah komentar yang sopan dan konstruktif. Diharap jangan melakukan spam dan menaruh link aktif! Terima kasih.

Internet

Tokoh

Teknologi

Komputer

Berita

Ilmu Pengetahuan

Elektronika

Gadget

Tips dan Trik